Belum habis jadi pembicaraan orang-orang, isu aliran sesat dan terorisme yang begitu deras melanda negeri kita yang notabene mayoritas penduduknya beragama islam. Mulai dari yang mengaku nabi baru, menolak hadist, “penculikan “ anggotanya sehingga orang tuanya kehilangan, menarik infaq dalam jumlah besar sampai terorisme dengan modus pengeboman tempat-tempat tertentu. Yang masih hangat barangkali kasus Ahmadiyah yang sebenarnya sudah terjadi cukup lama dan kini mencuat kembali dan beritanya kerap kali muncul di berbagai media. Semua kelompok atau organisasi atau apapun sebutannya mengatas namakan diri mereka islam dan menganggap golongan merekalah yang benar sedangkan golongan lainnya salah.Dalam surat Ar-Ruum ayat 31-32 :
31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
32. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka
Kita ambil salah satu kasus Amrozi dkk, yang melakukan pengeboman di beberapa tempat di Bali dan mengklaim sebagai “jihad” melawan Amerika Serikat dan sekutunya yang memusuhi dan membenci dunia Islam. Sederhananya kita baca sejarah, Rasulullah dan para sahabat sama sekali tidak pernah berbuat jahat, mereka melindungi warga sipil, wanita dan anak-anak dalam peperangan. Islam adalah rahmat semesta alam.
Masyarakat cukup dibuat resah, karena aliran-aliran tersebut banyak memakan korban hingga mereka pun bersikap hati-hati dan preventif. Tentunya maraknya isu-isu tersebut membuat masyarakat jadi skeptis dan sangat mungkin mereka akan memiliki persepsi yang negatif terhadap islam itu sendiri Mereka takut mendengar istilah Jihad atau perjuangan islam yang merupakan amalan yang memiliki tempat tertinggi dan sangat dinanti oleh para sahabat Rasul SAW. Saya sendiri sering mendengar istilah “sudahlah, islam yang biasa-biasa saja” atau “islam sekarang itu yang penting kamu shalat “ juga “hati-hati kalau ada pembicaraan yang ‘aneh-aneh’ mengenai islam”. Sering juga saya mendengar “jadi islam seperti apa yang benar sih?” . Sederhananya lagi, selalu ada tolak ukur yang pasti untuk menentukan benar atau salah dan tentu saja Allah SWT tidak akan Dzhalim kepada manusia dengan membiarkannya dalam kegelapan tanpa petunjuk, Al-qur’an dan Sunnah Rasul. Salah satu sebutan Al-qur’an adalah Al-furqon (pembeda). Jadi untuk membedakan benar atau salah; hak atau bathil seharusnya menggunakan Al-qur’an. Mudah saja bagi saya berkata demikian, akan tetapi pada kenyataannya....
Rasanya dengan santernya isu-isu tersebut, seharusnya kita makin mendalami islam atau Al-qur’an bukan malah menjauhi dan bersikap skeptis. Perhatikan saja para korban-korban aliran-aliran tersebut, mungkin saja dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap Al-qur’an. Mereka diberikan penggalan sebagian ayat al-qur’an atau hadist yang tidak jelas keshahihannya dan juga pemaknaan ayat Al-qur’an yang menyimpang. Lagi-lagi sederhananya, kalau kita ingin melaksanakan Al-qur’an dengan benar maka lihat bagaimana orang-orang yang jelas-jelas atau sudah pasti melaksanakan Al-qur’an dengan benar yaitu Rasulullah dan para Sahabat, bahkan Rasulullah disebut sebagai Al-qur’an berjalan
Al-Ahzab ayat 21 : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah
Islam yang benar adalah islam seperti yang Rasulullah SAW dan Sahabat laksanakan. Islam bukan organisasi, bukan partai, bukan aliran tertentu akan tetapi ajaran dari Allah yang berlandaskan tauhid, suatu sistem hidup, The Proven system yang mapan dan mampu mengatur manusia dengan seluruh permasalahan multidimensionalnya. Perhatikan kehancuran komunisme dan sistem lainnya yang gagal dalam mengatur hidup manusia.
So, dengan maraknya isu aliran sesat kita mesti lebih banyak mengaji, ngaji yuk!
Baca Selengkapnya....
