Kamis, 2008 Juni 26

Menyikapi Isu Aliran Sesat dan Terorisme

Belum habis jadi pembicaraan orang-orang, isu aliran sesat dan terorisme yang begitu deras melanda negeri kita yang notabene mayoritas penduduknya beragama islam. Mulai dari yang mengaku nabi baru, menolak hadist, “penculikan “ anggotanya sehingga orang tuanya kehilangan, menarik infaq dalam jumlah besar sampai terorisme dengan modus pengeboman tempat-tempat tertentu. Yang masih hangat barangkali kasus Ahmadiyah yang sebenarnya sudah terjadi cukup lama dan kini mencuat kembali dan beritanya kerap kali muncul di berbagai media. Semua kelompok atau organisasi atau apapun sebutannya mengatas namakan diri mereka islam dan menganggap golongan merekalah yang benar sedangkan golongan lainnya salah.Dalam surat Ar-Ruum ayat 31-32 :

31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,

32. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka

Kita ambil salah satu kasus Amrozi dkk, yang melakukan pengeboman di beberapa tempat di Bali dan mengklaim sebagai “jihad” melawan Amerika Serikat dan sekutunya yang memusuhi dan membenci dunia Islam. Sederhananya kita baca sejarah, Rasulullah dan para sahabat sama sekali tidak pernah berbuat jahat, mereka melindungi warga sipil, wanita dan anak-anak dalam peperangan. Islam adalah rahmat semesta alam.

Masyarakat cukup dibuat resah, karena aliran-aliran tersebut banyak memakan korban hingga mereka pun bersikap hati-hati dan preventif. Tentunya maraknya isu-isu tersebut membuat masyarakat jadi skeptis dan sangat mungkin mereka akan memiliki persepsi yang negatif terhadap islam itu sendiri Mereka takut mendengar istilah Jihad atau perjuangan islam yang merupakan amalan yang memiliki tempat tertinggi dan sangat dinanti oleh para sahabat Rasul SAW. Saya sendiri sering mendengar istilah “sudahlah, islam yang biasa-biasa saja” atau “islam sekarang itu yang penting kamu shalat “ juga “hati-hati kalau ada pembicaraan yang ‘aneh-aneh’ mengenai islam”. Sering juga saya mendengar “jadi islam seperti apa yang benar sih?” . Sederhananya lagi, selalu ada tolak ukur yang pasti untuk menentukan benar atau salah dan tentu saja Allah SWT tidak akan Dzhalim kepada manusia dengan membiarkannya dalam kegelapan tanpa petunjuk, Al-qur’an dan Sunnah Rasul. Salah satu sebutan Al-qur’an adalah Al-furqon (pembeda). Jadi untuk membedakan benar atau salah; hak atau bathil seharusnya menggunakan Al-qur’an. Mudah saja bagi saya berkata demikian, akan tetapi pada kenyataannya....

Rasanya dengan santernya isu-isu tersebut, seharusnya kita makin mendalami islam atau Al-qur’an bukan malah menjauhi dan bersikap skeptis. Perhatikan saja para korban-korban aliran-aliran tersebut, mungkin saja dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap Al-qur’an. Mereka diberikan penggalan sebagian ayat al-qur’an atau hadist yang tidak jelas keshahihannya dan juga pemaknaan ayat Al-qur’an yang menyimpang. Lagi-lagi sederhananya, kalau kita ingin melaksanakan Al-qur’an dengan benar maka lihat bagaimana orang-orang yang jelas-jelas atau sudah pasti melaksanakan Al-qur’an dengan benar yaitu Rasulullah dan para Sahabat, bahkan Rasulullah disebut sebagai Al-qur’an berjalan

Al-Ahzab ayat 21 : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah

Islam yang benar adalah islam seperti yang Rasulullah SAW dan Sahabat laksanakan. Islam bukan organisasi, bukan partai, bukan aliran tertentu akan tetapi ajaran dari Allah yang berlandaskan tauhid, suatu sistem hidup, The Proven system yang mapan dan mampu mengatur manusia dengan seluruh permasalahan multidimensionalnya. Perhatikan kehancuran komunisme dan sistem lainnya yang gagal dalam mengatur hidup manusia.

So, dengan maraknya isu aliran sesat kita mesti lebih banyak mengaji, ngaji yuk!

Baca Selengkapnya....

Selasa, 2008 Juni 24

Menggapai Ridha Allah

Ridha Allah, kembali saya mengingatkan diri saya dan siapapun yang membaca tulisan ini : mari jadikan ridha Allah sebagai tujuan dan cita-cita kita dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki dan bukan sekedar angan-angan belaka dan keinginan yang tidak jelas juntrungannya tanpa langkah yang nyata dan terarah. Mengapa ridha Allah bukan masuk surga saja? Hmm.. masuk surga adalah akibat atau janji allah allah kepada orang-orang yang diridhai-Nya, itulah mengapa tujuan kita beribadah bukan surga akan tetapi ridha-Nya, perhatikan lafazdh niat sholat atau ritual lain diakhiri dengan Lillahi Ta’ala. Ridha Allah tidak sama dengan Izin Allah, karena semua kejadian yang terizinkan Allah belum tentu diridhai-Nya. Contohnya berbagai macam kejahatan atau segala kemaksiatan yang terjadi didunia ini.

Apa dan bagaimana mendapat ridha Allah? Apakah sesuatu yang abstrak atau dapat dirasakan langsung oleh kita? contoh sederhananya kalau saya ridha kepada si A misalnya, maka saya senang dan menerima sikap, perilaku maupun perkataan si A begitupun si A terhadap saya. Atau contoh lain bayangkan bagaimana ridha ibu atau ridha kedua orang tua terhadap kita.Sudah terbayang? atau boleh saya katakan disini apabila kita diridhai kedua orang tua kita berarti perilaku, sikap dan perkataan kita sudah sesuai dengan keinginan mereka. Ketika kita diperintah atau disuruh oleh ayah atau ibu misalnya mereka akan senang jika kita dengan segera melakukannya

Ridha Allah berarti perilaku dan perbuatan kita lahir dan bathin sudah sesuai dengan kehendak Allah, begitu pula sikap kita benar terhadap perintah dan larangan Allah. Untuk meraihnya berarti perilaku dan perbuatan lahir dan bathin kita harus sesuai dengan kehendak Allah SWT. Jadi ridha Allah adalah kita dengan senang hati atau dengan ridha dalam melaksanakan kehendak Allah.

Kehendak Allah semuanya tertuang dalam Al-qur’an, bayangkan jika kehendak-Nya itu hanya kita baca dan sebut-sebut saja tiap hari tanpa melaksanakannya, niscaya Allah tidak akan ridha. Ada dimanakah ridha Allah? Dalam surat Ali ‘Imran ayat 19 disebutkan :

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Ridha allah ada di dalam Dinul (Agama) Islam dan orang-orang yang diridhainya adalah orang berada di dalam Din Islam. Dinul islam adalah ajaran dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW melalui malaikat jibril yang mengatur seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia agar manusia bahagia dunia maupun akhirat. So kalau ada ajaran yang tidak berasal dari Allah, maka bukan Din Islam, kalau ada yang mengatur aspek hidup dan kehidupan manusia tidak berasal dari Allah maka bukan Din Islam and ada tidak kira-kira bagian dari hidup manusia yang tidak di atur oleh Din Islam? Hmm...PR kita semua.......

Baca Selengkapnya....

Senin, 2008 Juni 23

Tujuan Hidup Manusia II

Kalau kita melihat sejarah Rasulullah SAW dan para Sahabat tidak hanya melakukan ritual, aktivitas lainnya seperti berdagang, berkebun dan lain-lain dilakukan juga. Apakah para sahabat tidak sedang ibadah pada saat berdagang? Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu.

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah adalah perbuatan mukhalaf yang tidak didasari atas hawa nafsu tapi atas dasar tauhid, sesuai syariat yang telah dicontohkan Rasul dan tujuannya untuk mendapat ridha Allah semata. Berbicara masalah ridha Allah, apabila seseorang ditanya apa tujuan hidupnya, saya percaya semua orang akan menjawab ”insya allah, mencapai ridha-Nya” atau ”bahagia lahir bathin dunia dan akhirat”. Semua orang mempunyai tujuan untuk mendapat kebahagiaan hakiki dan hanya dapat dicapai apabila kita diridhai Allah (Mardhatillah). Kembali saya ingin mengingatkan diri saya dan pembaca sekalian apakah sudah menjadi cita-cita kita atau angan-angan belaka. Cita-cita berbeda dengan angan-angan tentunya, karena cita-cita disertai dengan langkah nyata dan rencana yang matang.

Seorang pelajar SMA misalnya mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter maka dia akan menjalani langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menjadi seorang dokter seperti belajar dengan tekun, mendaftar kuliah di jurusan kedokteran selepas lulus dan seterusnya, semuanya itu sudah terbayang dikepalanya. Dalam menggapai ridha Allah SWT sudahkah kita seperti itu?

Baca Selengkapnya....

Minggu, 2008 Juni 22

Tujuan Hidup Manusia

Pernahkah kita berfikir kita lahir di dunia ini bukan atas keinginan kita? Mengapa kita lahir di bumi indonesia bukan di amerika? Atau pernahkah mendengar ungkapan pertanyaan kalau anda dilahirkan kembali ingin menjadi apa atau lahir di rahim siapa dan seterusnya. Kita tidak bisa memilih ingin menjadi seorang wanita atau pria juga lahir dengan wajah tampan atau cantik, karena semua yang terjadi pada diri kita pada hakikatnya adalah atas dasar kehendak dan kuasa Allah SWT dan segalanya telah ditetapkan oleh-Nya, oleh karena itu dalam menjalani hidup kita seharusnya tidak semaunya dan sudah sepatutnyalah kita berserah diri kepada Allah SWT bahkan dalam menetapkan tujuan hidup kita. Tujuan hidup adalah cita-cita atau keinginan tertinggi (the ultimate purpose) dalam hidup kita yang akan menentukan aktivitas, cara berpikir, dan tindakan kita.

Dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 56 : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Allah SWT memiliki tujuan untuk apa kita diciptakan, yaitu semata-mata hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Manusia adalah hamba, abid, budak (slave) dari Allah yang tugasnya hanya menuruti kehendak tuannya (Allah SWT).

Timbul pertanyaan dalam benak saya, kapan kita harus beribadah kepada Allah? Dari ayat di atas dapat dikatakan bahwa tidak ada hal lainnya yang harus manusia lakukan dalam hidupnya kecuali beribadah kepada-Nya, berarti perintah ibadah itu berlaku selama 24 jam dalam satu hari. Hal ini menunjukkan pula ibadah tidak sama atau tidak hanya ritual (shalat, puasa dll), bayangkan kalau kita samakan ibadah itu dengan ritual. Saya misalnya, waktu untuk 1 kali shalat sekitar 5 – 10 menit, berarti saya beribadah kepada Allah SWT hanya 10 menit x 5 waktu = 1 jam kurang. Jadi bagaimana dengan aktivitas kita di luar ibadah ritual kita?

Bersambung.....

Baca Selengkapnya....

Mengaji

Mengaji, berasal dari kata dasar kaji sehingga bisa dikatakan mengaji sama dengan mengkaji. Setuju atau tidak, mengaji tidak sekedar membaca atau boleh dikatakan membaca tapi tidak dalam pengertian yang sempit. Rasulullah SAW mendapat perintah pertama untuk membaca (Al-Alaq 1-3), akan tetapi Rasulullah SAW adalah seorang yang ummi. Dengan demikian apa yang dimaksud dengan "membaca" yang diperintahkan kepada Rasulullah SAW?

Mengaji Al-qur'an yang saya terima sejak kecil adalah dalam pengertian membaca huruf dan tulisan dalam alqur'an, dimana kita akan mendapat pahala dengan membacanya. Maha besar Allah, hanya dengan membacanya saja kita mendapat ganjaran pahala.Dalam Surat Al-baqarah ayat 2 dimana artinya "Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa". Mengapa tidak dikatakan "Bacaan bagi mereka yang bertaqwa"? seperti lazimnya petunjuk adalah sesuatu yang harus diikuti, petunjuk tidak dapat kita ikuti tanpa mengerti arahan yang diberikan dan untuk mengerti kita tentunya harus membaca petunjuk tersebut. Sejak kecil kita dibiasakan untuk membaca Al-qur'an dengan harapan kita akan terlatih pada tahapan pertama dalam mengikuti petunjuk Allah SWT yang tertuang dalam Al-qur'an yaitu proses membaca, sebelum proses mengerti dan proses mengamalkan. Begitukah? membaca-mengerti-mengamalkan, sedangkan didalam alqur'an terdapat 6666 ayat untuk dilaksanakan, semua ayat harus diamalkan?

Kandungan Al-qur'an yang secara garis besar dapat kita bagi menjadi beberapa hal pokok atau hal utama beserta pengertian atau arti definisi dari masing-masing kandungan inti sarinya : Aqidah/Akidah, Ibadah, Akhlaq/Akhlak, Hukum-Hukum, Peringatan/Tadzkir, Sejarah-Sejarah atau Kisah-Kisah dan kejadian yang akan datang seperti kiamat, surga dan neraka alam kubur dan lain-lain.

Al-qur'an adalah tuntunan kehidupan, manusia akan mencapai kondisi terbaiknya apabila mengikuti tuntunan ini.Suatu produk tertentu seperti Printer misalnya akan disertai manual book sebagai petunjuk penggunaan maupun solusi-solusi kerusakan teknis yang mungkin terjadi, apabila penggunaan printer tidak sesuai dengan manual book maka yang akan terjadi adalah printer tersebut rusak. Manusia adalah "produk" ciptaan Allah SWT maka satu-satunya manual book untuk manusia adalah Al-qur'an.

Terus terang saya bukan termasuk orang yang rajin mengaji (membaca) Al-qur'an, tapi melalui tulisan ini saya ingin mengajak diri saya dan pembaca untuk mengaji seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, mengaji Al-quran dengan tujuan untuk melaksanakan tuntunan Allah SWT dan saya tidak ingin kedalam golongan seperti yang disebutkan dalam Al-Baqarah ayat 4 4

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”

so, ngaji yuk!

Baca Selengkapnya....